Berita Oto RacingReview ProdukTest DriveAgendaTipsKamus OTO Polling Links
Lainnya   

Jakarta Surga Onderdil Palsu

Periksa Onderdil yang Anda Beli...

JAKARTA memang surga suku cadang palsu. Mencarinya gampang dan harganya murah pula. Hampir semua onderdil mobil atau motor merek terkenal, ada palsunya.

Suku cadang palsu dibuat oleh pengrajin tertentu ataupun diimpor kemudian dikemas dengan menempelkan label merek-merek yang terkenal dan dikenal laris

Dari beberapa kasus yang berhasil diungkap, ditengarai perdagangan barang haram ini melibatkan pemain dari luar negeri. Publik mungkin masih ingat kasus penangkapan dua warga negara Cina, Sie Ka Kui alias Freddy (59) dan Su Sin alias Jody Pangestu (29) yang ditangkap jajaran Kepolisian Sektor Metro Penjaringan beberapa waktu lalu.

Meski tidak memiliki izin usaha bahkan paspor, mereka tetap nekat berbisnis suku cadang palsu. Saat itu, polisi menyita ratusan dus berisi ratusan ribu suku cadang kendaraan niaga merek palsu, yang nilainya puluhan miliar rupiah.

Uniknya, kedua warga negara RRC itu memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesia. Freddy mengantongi KTP yang dikeluarkan Kecamatan Penjaringan dengan nomor 095102.140259. 4005 dan surat tanda izin mengemudi.

Sedangkan Su Sin memiliki KTP yang dikeluarkan Kecamatan Curug, Tangerang, dengan nomor 3219032009.0648556. Fotonya tertempel pada KTP itu dengan nama Jody Pangestu kelahiran Tangerang, 23 Oktober 1974.

Sementara itu, seorang pemilik bengkel di Bogor, sebut saja Iwan, beberapa waktu lalu menemukan suku cadang mobil berupa kanvas rem dan filter oli dengan menggunkan merek palsu. Setelah ditelisik, suku cadang tersebut aslinya bermerek Sakura dan Omega. Lalu dihapus dan diganti dengan merek terkenal yang laris di pasaran.

Menurut Iwan, merek yang banyak dicatut adalah Toyota, Mitsubishi, Isuzu, Masda, Suzuki, dan Daihatsu, untuk produk filter oli, kanvas rem, dan filter udara. Iwan mengetahui produk itu bukan produk asli, karena daya pakainya cuma tiga bulan. Sedangkan yang asli bisa satu tahun lebih.

"Keberanian" para pemalsu itu tentu karena ada pihak di dalam negeri yang terlibat. Banyak pihak yang menduga perdagangan suku cadang palsu di Jabotabek melibatkan sindikat yang memiliki jaringan kuat dan rapi.

Indikasinya, mereka hanya mengimpor suku cadang yang mirip dengan suku cadang kendaraan tertentu yang diproduksi di Indonesia dan laris dipasaran.

Peredaran suku cadang palsu kendaraan bermotor di Jabotabek betul-betul meresahkan kalangan agen tunggal pemegang merek (ATPM). Setiap tahun mereka mengaku dirugikan hingga ratusan miliar akibat ulah pebisnis barang palsu tersebut.

PT PT Pantja Motor misalnya, seperti dikatakan After Sales Service Division Head PT Pantja Motor, Agustinus Indraputra, sekitar 30 persen spare part palsu dengan merek Isuzu beredar di pasar bebas. Suku cadang palsu yang menggunakan merek Isuzu tersebut dijual di toko-toko onderdil di Jabotabek, Surabaya, dan kota-kota besar lainnya.

"Sampai hari ini, suku cadang imitasi yang memakai merek Isuzu memang masih banyak beredar di pasar. Jumlahnya mencapai 30 persen atau sekitar Rp 100 miliar," ungkap Indra.

Dari 30 persen suku cadang yang dipalsukan terbanyak untuk mobil Panther, menyusul Elf, dan beberapa merek mobil yang dikeluarkan Isuzu.

Menurut After Sales Services Division Head PT Astra International, Lili Herman, saat ini Isuzu sedang menyiapkan tim legal action untuk mengantisipasi peredaran suku cadang palsu itu. "Jika situasi ini terus berlangsung, mau tidak mau kami harus mengambil tindakan," ujarnya.

Pahitnya digerogoti para pemalsu suku cadang juga dirasakan PT Astra Daihatsu Motor misalnya. Seperti diakui oleh Wakil Presiden Direkturnya, Noertjahjo Darmadji, setiap tahun pendapatannya di gerogoti hingga 20 persen akibat pemalsuan tersebut. Artinya, bila pendapatan Daihatsu Motor sebesar Rp 200 miliar setahun, berarti pemalsuan onderdilnya sebesar Rp 40 miliar per tahun.

Menurut Noertjahjo, pemalsuan suku cadang Daihatsu semakin merebak sejak tahun 2003. Sebetulnya, konsumen pemakai mobil Daihatsu sudah mengeluhkan onderdil palsu Daihatsu sejak tahun 2000.

Kebanyakan suku cadang Daihatsu yang dipalsu berupa komponen yang laris diganti. Misalnya, kampas rem, kampas kopling, pelat kopling, saringan oli, saringan bensin, piston platina, peredam kejut, dan packing set.

Hukum

Karena itu, dengan menyewa jasa hukum dari Kantor Pengacara Soemadipradja & Taher, Daihatsu Motor gencar menginvestigasi kasus pemalsuan onderdil. Hasilnya, enam bulan kemudian, terdeteksi 40 toko pengecer dari 728 toko pengecer onderdil Daihatsu di seluruh Indonesia yang tertangkap tangan menjual onderdil Daihatsu palsu.

Dari penggerebekan itu disita sebanyak 484 unit onderdil Daihatsu palsu.
Para pemilik 40 toko itu telah disomasi dan didenda antara Rp 50 juta dan ratusan juta rupiah oleh Daihatsu Motor. Besarnya denda bergantung pada banyaknya onderdil palsu yang telah mereka jual.

Menurut Justisiari Perdana Kusumah dari Kantor Pengacara Soemadipradja & Taher, penjatuhan denda dimaksudkan agar pelaku merasa jera dan tak melakukan pemalsuan lagi.
Investigasi lantas dikembangkan. Ternyata, ditemukan lagi 10 toko pengecer yang menjual onderdil Daihatsu palsu. Beda dengan sebelumnya, 10 toko ini mendapat perhatian serius.

Sebab, selain jumlah onderdil palsu yang dijual demikian banyak, mereka juga sudah sejak tahun 1994 "membisniskan" onderdil palsu Daihatsu. Satu dari 10 toko itu adalah toko Kimberly Motor milik Oyong Liza Huslin di pertokoan Duta Mas, Jakarta Barat.

Bersama petugas dari Polda Metro Jaya, Daihatsu Motor pun meningkatkan investigasi ke tahap penyelidikan. Sampai pada 4 Maret 2004, toko Kimberly Motor, yang ternyata punya gudang cukup luas, digerebek.

Berbagai macam onderdil Daihatsu palsu bernilai sekitar Rp 3 miliar disita. Selain itu, ditemukan pula onderdil palsu bermerek Honda, Toyota, Mitsubishi, dan Suzuki senilai Rp 8,7 miliar. Sebagian besar onderdil ini berupa valve seal, piston, gasket kit, dan timing belt.

Oyong lantas ditahan di Polda Metro Jaya. Kepada penyidik, Oyong mengaku tak mengimpor langsung onderdil palsu, tapi melalui perantara.

Ia juga mengaku tak tahu alamat importirnya. "Saya hanya menelepon minta dikirimi barang. Setelah itu, barang datang," kata Oyong, seperti ditirukan oleh seorang penyidik.

Oyong juga mengaku melakukan perdagangan barang palsu semata-mata untuk mencari untung. "Untungnya antara 10 sampai 20 persen," tuturnya. Kini perkara Oyong sudah disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Pekan ini, Oyong akan divonis.

Sindikat pemalsuan suku cadang menurut pengamat otomotif, Kosasih, tidak hanya didominasi jaringan di dalam negeri. Kini jaringan luar negeri pun disinyalir semakin kuat menancapkan jarring bisnisnya di Indonesia.

Barang-barang tersebut biasanya berasal dari Cina, Thailand, Taiwan, dan Korea. "Untuk memutusnya, tidak hanya menghancurkan jaringan pemalsu suku cadang namun juga perlu penyadaran kepada pemilik kendaraan," ujarnya.

PEMBARUAN/SETIA LESMANA

Tips lainnya  

Kirim ke Teman       Simpan ke OTO Garage       Print



Pencarian tips :
   
 
Berita
24-May-2013
Honda Brio Speed Challenge Digulir Minggu
24-May-2013
Pemasaran Datsun Gunakan Jaringan Dealer Nissan
24-May-2013
Guru SMK Otomotif di Jateng Dilatih Chevrolet Indonesia
Berita lainnya
Review Produk

Mazda 5 Disempurnakan Demi Kenyamanan

R1 dan R2, city car Paling Aman Di Pasaran

Ruang Bagasi Livina, Jauh Lebih Lapang
Review Produk lainnya
Agenda
Pameran Mobil
Test Drive
Jadwal Balap Nasional
Klub Otomotif
Seminar Otomotif
Agenda lainnya



OtoGarage  |  myOrder  |  Site Map  |  Profil OTO  |  Karir Oto  |  Advertiser
Copyright © 2005 PT. OTO MULTIARTHA.   Storage Powered by NetApp